Diposkan pada ceritaku

Sudut Pandang

Liburan telah usai, meski suasana lebaran samar-samar masih terlihat mata. sudah dipastikan para perantau-perantau kayak saya ini sudah kembali ke tanah rantau, bahasa gaulnya “back to reality” hehehhee. Saat saya nulis ini, saya baru saja kembali ke kantor dari istirahat makan siang, lalu saya kepengen nyeritain sedikit hal yang terjadi pas makan siang tadi. Pekerjaan saya di bagian pelayanan publik mengharuskan saya bertemu dengan banyak orang, tentu saja gag cuman orangnya, tapi juga dokumen-dokumen juga yang berkaitan dengan orang tersebut. Pas mau ngambil kunci motor untuk istirahat, salah satu mitra datang ke kantor, tujuannya bukan ketemu saya sih, tapi karena suasana lebaran masih terasa, beliau masuk ke ruangan saya untuk bersalaman sembari meminta maaf jika terdapat salah, tentu saya menyambut jabat tangan beliau karena umur beliau yang jauh di atas saya. Tak lupa beliau juga berkata “Arin tambah gemuk yaa….”, saya balas dengan senyum terlebar yang saya bisa. Saya gag tersinggung, sudah terbiasa mendengar kata-kata seperti itu, padahal sebenernya jarum timbangan badan di kamar cenderung ke arah kiri bukan ke kanan. tapi ah sudahlah, beliau kemudian berlalu begitu saja, sembari saya melanjutkan aktifitas saya nyari makan siang karena belum sempet masak di rumah.

Seperti yang saya duga, saya kesulitan mencari penjual makan di Sumbawa karena sepertinya kebanyakan masih mudik dan libur lebaran, akhirnya setelah beberapa saat berkeliling,  saya ketemu di deket wisma Bupati Sumbawa, sekitar 15 menit dari kantor (karena ditambah muter2 hehe). Ramai sekali di sana, padahal jika hari-hari biasa juga tak seramai sekarang. Saya memutuskan berhenti, dan memesan makanan tempe penyet favorit saya di warung tersebut, eh gag nyangka ada bapak-bapak tetangga kamar juga lagi makan disana (saya gag tau nama bapaknya, padahal udah hampir setahun tetanggaan huhuhuhu). Kami akhirnya saling tegur sapa, bapak tersebut sengaja berdiri menghampiri saya “jauh sekali cari makannya”, tanya beliau, kami kemudian ngobrol sebentar, sebelum beliau kembali ke kursinya beliau bilang “puasanya berhasil ya mbak Rin, turun banyak kayaknya berat badannya”. lagi-lagi saya tersenyum selebar yang saya bisa. dalam hati saya membatin, ada pelajaran luar biasa yang saya peroleh hari ini. tentang sudut pandang, tentang presepsi.

Hidup ini tidak seperti matematika yang bisa memiliki jawaban pasti, setiap manusia tentu memiliki pemikiran, sudut pandang dan presepsi sendiri yang tidak bisa kita salahkan…

bagaimana bisa dalam hitungan menit, dua orang memberikan komentar yang saling bertentangan. saya tersenyum… begini cara sudut pandang dan presepsi bekerja, batin saya dalam hati. Tentu saja mereka beralasan saat bilang saya lebih kurus atau saya lebih gemuk, ingatan mereka tentang postur tubuh saya yang terakhir kali mereka lihat yang mempengaruhinya. mungkin mitra saya terakhir melihat saya lebih kurus dari sekarang, dan bapak tetangga kamar saya terakhir melihat saya lebih gemuk dari sekarang. berhakkah saya menyalahkan jawaban mereka? tentu saja tidak, itulah karenanya kita harusnya tidak terlalu memperdulikan komentar orang lain terhadap kita, apalagi jika komentar tersebut malah bisa membuat kita sedih, cemas, gelisah bahkan bisa menyebabkan kita depresi.

Ah, jika hanya urusan dikomentari yang sekarang lebih gendut dan kurus itu hanya hal sepele saja menurut saya, belakangan saya risih sekali dengan orang-orang yang merasa sok tau tentang sesuatu dan menilai sesuatu dan seseorang dengan seenaknya. Memang sudah kodratnya manusia mungkin memiliki sifat suka menilai dan mengomentari orang lain, kadang manusia menilai orang lain dari apa yg mereka lihat di luarnya saja, bahkan parahnya ada juga manusia yang menilai orang lain dari apa yang mereka dengar dari orang lain saja, sebelum mereka melihat langsung orang tersebut. Ya, saya tidak memungkiri, sayapun mungkin juga seperti itu, tapi mari terus memperbaiki diri. Saya mulai menanamkan kepada diri saya sendiri untuk tidak pernah menjudge orang lain, kita tidak pernah tau apa yang telah orang lain alami sehingga mereka menjadi seperti ini, dan berhentilah mencampuri urusan orang lain, apa yang mereka putuskan dalam hidupnya tentu telah melalui perenungan yang panjang, pemikiran yang matang dan juga banyak pertimbangan.

#kosongempatsatukosongdua kosongsatudelapan
setelah tulisan telat publish 3 bulan, -arin-

Diposkan pada ceritaku

Ngomong Ngalor Ngidul

(Tulisan ini adalah tulisan saya yang paling gag jelas menurut saya pribadi, jadi maaf-maaf yak kalau nanti jadi ilfil terus terkesan norak saat dibaca, saya sudah memperingatkan yaaa hehe, jangan diteruskan membaca ya please :p )

Marhabban ya Ramadhan….
Alhamdulillah kita semua masih diberi kesempatan untuk bertemu ramadhan lagi. Masih sama dengan tahun sebelumnya, Ramadhan kali ini saya masih ngejalaninnya di Sumbawa, NTB, jauh dari keluarga. Berarti genap sudah ini ramadhan ke 6 saya di perantauan. Sedih? jelas, tapi saya tau ini cara Allah mendidik saya menjadi manusia yang kuat dan mandiri tentu saja. Alhamdulillah…
Jadi ceritanya saya sedang menunggu buka puasa ini, gag ding :D. Saya sedang berada di kantor saat menulis ini, ada tumpukan-tumpukan kertas cukup tinggi juga di meja saya, tapi tiba2 pikiran saya terasa penuh, ada berbagai hal yang mencoba keluar dari otak saya membuat saya gag bisa konsen kerja siang menuju sore ini. saya memutuskan mengunjungi blog saya, menulis beberapa kata, barangkali tulisan kali ini bernasib baik dan bisa saya publishkan dan tak seperti beberapa tulisan lain yang hanya bertengger di draft saya. kali ini saya akan menceritakan seseorang yang belakangan hadir dalam hidup saya, saya gag berharap ia membaca tulisan ini, tapi tohpun ia membacanya ya gagpapa juga sih…

Dia orang baik, begitu saya menilainya pertama kali. Meski sempat beberapa kali saat pertama mengenalnya saya mendapat info dari teman-teman saya hal negatif tentangnya, saya memberanikan diri untuk mencoba mengenal pribadinya sendiri, meski ucapan-ucapan teman-teman saya tidak saya lupakan begitu saja. Kesan pertama saat mengenalnya, ia sama dengan laki-laki pada umumnya, tapi saya juga tak menemukan sisi negatifnya yang membuat saya harus mundur menjauhinya. Entah, ada motivasi tersendiri yang membuat saya harus mengenal sosoknya (motivasinya apa, akan saya ceritakan di tulisan berikutnya kalau memang menjadi nyata).

Tapi sungguh, setelah beberapa saat mengenalnya. Saya cukup dibuat kagum dengan sosoknya, ia mampu membuat saya melihat kehidupan dengan cara pandang dan sudut pandang yang baru. Kami memiliki kepribadian yang memang cukup berbeda, saya sendiri adalah manusia-manusia introvert yang cukup sulit untuk membuka diri dengan lingkungan luar (tapi InsyaAllah saat ini kondisinya jauh lebih baik, tidak seintrovert saat saya masih SMA dan kuliah) sedangkan ia adalah sosok yang ingin terlihat, menonjol dan beberapa ciri lain yang dimiliki oleh orang-orang extrovert. tapi bukan disitu intinya. Umur kami tak terpaut jauh, kurang dari 1 tahun, tapi sikap dewasanya membuat saya sering kali meleleh dibuatnya. Ia bijak memandang kehidupan, ia pandai membuat prioritas, ia pintar menempatkan diri sedang dengan siapa ia berhadapan, ah saya penasaran dari siapa ia mempelajari semua itu.

Bagi orang lain yang tak mengenal dirinya dengan baik, tentu yang terpikir pertama kali di benak orang tersebut adalah orang yang “urakan”, awalnya saya berfikir seperti itu. Dan saya tak menyesal telah mencoba mengenalnya lebih dalam. Sejak mengenalnya saya mengerti arti don’t judge a book by the cover

“Don’t Judge a Book By The Cover”

ya jangan pernah menilai seseorang dari luarnya saja, sungguh kadang mereka yang kita underestimate bisa saja memiliki kepribadian yang jauh lebih baik dari kita sendiri. Saya sampai tak bisa menceritakan satu per satu bagaimana kedewasaannya membuat saya sering introspeksi diri. Tapi nanti akan saya ceritakan InsyaAllah jika diberi kesempatan.

Ah saya sedang ngomong ngalor ngidul ini, pasti tulisan saya ini gag jelas, tapi takpapalah. sekali-kali ya kan. Sebelum saya mengakhiri tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal buat dia (yang belum bisa saya sebut namanya) yang sedari tadi kuceritakan pada kalian…

Hay, terimakasih mas telah memberikan kesempatan saya mengenalmu. Terimakasih sudah mengajarkan saya memandang hidup dengan cara pandang yang baru, dengan sudut pandang yang baru. Izinkan saya belajar bersikap dewasa darimu, izinkan saya untuk terus belajar segala hal positif yang ada di dirimu dan izinkan saya belajar menerima segala kekuranganmu. Saya masih tidak tau apa yang akan terjadi dengan kita kedepannya, tapi di dalam doa tak pernah luput ku sebut namamu untuk ku diskusikan dengan Tuhanku. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk aku dan kamu. 🙂

-dua empat kosong lima dua kosong satu delapan, tujuh belas hari menuju pulang kampung, arin-

Diposkan pada ceritaku

Wahai diri, ingatlah engkau tak hidup sendiri

Wahai diri, begitu banggakah engkau dengan pendidikan tinggi yang kau miliki sampai-sampai kau sering mengesampingkan kalau kau tak hidup sendiri?

Wahai diri, aku tau mungkin dalam prosesmu menuntut ilmu untuk memperoleh gelarmu kau harus terpisah jauh dengan keluargamu, dan orang-orang di kampung halamanmu tapi bukankah ini tak bisa menjadi alasan menjadikan dirimu manusia apatis terhadap sesamamu?

Wahai diri, mungkin tugas-tugas kuliahmu dulu memaksamu untuk lebih mempergunakan banyak waktumu untuk memandangi lembaran kertas dan laptopmu, dan menarik diri untuk bersosialisasi dengan lingkunganmu, tapi harusnya kau tak lupa diri bahwa engkau tak bisa hidup sendiri di dunia ini. Bukankah saat jauh dari keluarga tetanggamu adalah orang pertama yang akan kau butuhkan saat engkau mendapatkan kesulitan? Lalu pantaskah jika engkau bersikap acuh kepada tetanggamu?

Wahai diri, belajarlah untuk mulai membaur dengan orang lain di sekitarmu, khususnya dengan tetanggamu, karena mereka adalah orang terdekatmu kala kau di perantauan. Jangan merasa tinggi dengan gelarmu, dengan jabatanmu, dengan kekayaanmu. Karena sungguh kau tak bisa hidup tanpa mereka di sekelilingmu.

Wahai diri, berterimakasihlah kepada seseorang yang telah mengingatkanmu arti pandai sesungguhnya, bukan ijazah yang menjadi tolok ukur kepandaianmu, bukan pula jabatan yang bisa menjadi parameter keberhasilanmu. tapi saat kau mampu menempatkan diri di lingkunganmu, menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingmu dan juga mampu membaur dengan lingkungan sekitarmu.

“untuk seseorang, terimakasih sudah mengingatkan diriku yang sudah terlalu lupa diri bahwa aku tak mampu hidup seorang diri”

Sumbawa, dua enam kosong empat dua kosong satu delapan
sedang merindukan seseorang
-arin-

Diposkan pada ceritaku

ISTIRAHAT BOLEH, MENYERAH JANGAN


Cuaca di Sumbawa cukup buruk belakangan, matahari malu-malu untuk menampakkan sinarnya, mungkin hujan sangat rindu pada tanah Sumbawa sehingga ia belum bosan menyapa kami setiap harinya. Tapi hujan tentu tak boleh menyurutkan semangat kami untuk beraktifitas, rasanya kasur saya punya gaya gravitasi yang luar biasa besar yang membuat saya malas sekali beranjak darinya (tsaah, malas itu namanya, pakek bawa-bawa gravitasi). Oke jadi di hari ke 10 ini, saya mau nulis tentang something for which i feel strongly atau kalau saya sih ngartiinnya, sesuatu yang bikin saya harus kuat untuk menjalani hidup ini.
Bagi saya, orang tua adalah alasan pertama dan utama yang membuat saya harus selalu kuat. Kadang kita sebagai anak lupa, kalau seiring berjalannya waktu kita akan tumbuh dewasa dan orang tua kita akan beranjak menua. Setelah saya bekerja, saya tergolong jarang pulang ke rumah, ya anggap saja setahun 2x saja, dan setiap saya pulang ke rumah, saya kadang harus menahan agar air mata saya tak jatuh di depan bapak ibu saya. Bagaiman saya tak sedih jika melihat semakin banyak kerutan di wajah orang tua saya, melihat tubuh mereka lebih kurus dari yang terakhir kali saya melihatnya, melihat jari jemari mereka yang semakin kriput namun masih tetap harus bekerja menghidupi keluarga. Betapa banyak sekali waktu yang saya lewatkan untuk dapat mengikuti perkembangan hari-hari mereka.
Saya memang bukan anak yang intens menghubungi orang tua saya, sejak kuliahpun saya begitu. Mungkin seminggu sekali, saya berkabar kepada mereka, atau jika tidak ibu saya yang terlebih dahulu menanyakan kabar saya. Tapi bukan berarti saya abai untuk mengikuti perkembangan orang tua saya, apalagi semakin kesini saya semakin merasa bahwa orang tua saya adalah segalanya untuk saya. Jadi apapun yang terjadi kepada orang tua saya, sebisanya saya harus tau keadaan mereka.
Karena itulah saya harus kuat menjalani hidup ini, gag boleh gampang ngeluh apalagi ngeluh ke orang tua karena saya paham betul gimana bapak ibuk saya, yang bisa gampang khawatir sama anaknya kalau kenapa-kenapa dan itu pasti hanya nambah beban pikiran mereka. Jadi kalau ada masalah, menurut saya cerita ke orang tua adalah jalan terakhir kalau saya emang bener-bener gag bisa menyelesaikan. Kalau saya capek dengan dunia ini saya harus mengistirahatkan tubuh dan pikiran saya dan saya berprinsip saya gag boleh nyerah. saya gag boleh nyerah. Alhamdulilah menurut saya gag ada masalah terlalu berat yang datang pada diri saya, kalau ada bawa selow aja adalah cara yang paling sering saya ambil. selain itu saya harus merasa fisik saya juga harus kuat, harus sehat, lagi-lagi saya gag mau membuat ortu khawatir denger kabar kalau anaknya sakit di perantauan. Semoga Allah memberikan kesehatan kepada saya dan kalian semua. Jadi pada intinya orang tua adalah yang pertama dan utama untuk hidup saya, saya bahagia kalau mereka bahagia, dan saya sedih kalau mereka sedih. Semoga Allah selalu jaga mereka saat saya jauh dari mereka. aamiin

#30dayswrittingchallenge
#day10

dua dua satu satu dua kosong satu tujuh, maaf ya tulisannya telat upload terus karena jaringan, Arin-

Diposkan pada ceritaku

Menjadi Pribadi Sederhana dan Apa adanya

Bicara tentang wisdom, saya bisa digolongkan ke golongan manusia yang suka sama rangkaian kata, dan biasa orang yang suka dengan rangkaian kata identik dengan orang yang galauan. Saya juga suka mengoleksi buku-buku yang di dalamnya mengandung wisdom-wisdom yang biasanya pas mengena di hati (saat itu). Kadang kalau pas milih buku di toko buku saya kayak screening gitu bacanya, membuka halaman demi halaman buku dengan cepat, nah kalau saya nemu kata-kata bagus meskipun cuman 1, langsung deh saya beli buku itu (sesederhana itu -_-). Saya sih gag memungkiri saya juga orang galauan sometime(s). Tapi ya sudahlah….
jadi kali ini saya mau bahas 2 kata-kata yang selalu berusaha saya patri di otak dan hati saya biar saya gag lupa dan emang kudu saya inget-inget terus (kayaknya saya sudah pernah nyisipin kata-kata ini ke tulisan-tulisan saya sebelumnya).

Kamu tak perlu menjadi orang lain untuk menjadi dikagumi
Kamu hanya cukup menjadi versi terbaik dari dirimu

Ada cerita memang dibalik kenapa saya harus ingat-ingat betul kata-kata ini, dan kalian beruntung bisa tau ceritanya (laaaah ). Belum lama ini saya mengenal seseorang, dia teman kerja saya sih tapi penempatannya berbeda. Lalu entah gimana ceritanya saya bisa sempat dekat dengannya. Tapi dia punya sifat yang menurut saya gag terlalu baik, dia sering menilai orang lain dari luarnya saja. Dan singkat cerita saya jadi punya mindset yang agak melenceng karena itu, saya jadi kepengen dinilai selalu baik oleh dia, meskipun saya harus berpura-pura jadi orang lain. huhuhuhu, padahal mungkin dia menilai saya baik karena pada saat itu dia ngeliat saya yang bukan saya, saya yang pura-pura jadi orang lain. Tapi yang namanya pura-pura pastilah beda sama yang apa adanya ya kan, lama kelamaan saya capek berpura-pura jadi orang lain. it’s not comfort, dude 😦 . Dan benar, ketika saya berusaha menjadi diri saya sendiri hubungan kami menjauh dan akhirnya kami tidak dekat lagi (tapi masih jadi teman sih). Lalu pelajaran apa yang saya bisa ambil dari situ? saya belajar arti sebuah ketulusan. Mereka yang tulus akan membuatmu nyaman menjadi dirimu sendiri, bukan malah merubahmu menjadi pribadi lain yang seperti dia inginkan. Dan saya yakin mereka yang tulus akan tetap bersamamu meski mereka sudah tau kejelekan-kejelekanmu.

Langit tak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi
Samudra juga tak perlu menjelaskan bahwa dirinya luas

Ada banyak golongan-golongan manusia banyak ngomong, banyak pamer di dunia ini. mereka menjelaskan dirinya dengan begitu sempurna. Tapi mungkin sebenernya kenyataannya tak sesempurna yang mereka jelaskan. Saya suka ilfil sama orang-orang golongan ini. Liat aja langit, dia gag pernah teriak-teriak “hai manusia, aku tinggi lo” gag pernah kan? tapi semua manusia sependapat kalau langit tinggi. Samudra juga gitu, dia gag pernah ngirim surat ke manusia kalau ia luas, tapi manusia juga sependapat kalau samudra luas. Manusia harusnya juga kayak gitu lah, kalau merasa kerjanya bagus, dia gag perlu pamer ke rekan kerjanya “aku lo bisa ngerjain semua ini”, yang temen-temen kerjanya butuh tuh sebenernya cuman bukti kalau dia bisa nyeleseain kerjaan dengan tepat dan cepat. maka teman-teman kerjanya pasti mencap kalau dia bisa ngerjain semua. Makanya kadang saya gag suka sama orang yang banyak omong. karena ada indikasi mereka suka menjelaskan dirinya secara berlebihan.

Itu dua wisdom yang saya jadikan pegangan untuk menjadi pribadi yang sederhana dan apa adanya
#day9
#30dayswrittingchallenge

-dua satu satu satu dua kosong satu tujuh, hujan seharian, Arin-

Diposkan pada ceritaku

Struggle

Hidup memang tak selamanya sesuai yang kita inginkan. Kadang kita pengen belok kanan, tapi sama Allah kita di belokkan ke kiri, atau kadang sama Allah kita suruh jalan lurus dulu, belok kiri, lurus lagi baru belok kanan. Begitulah kehidupan. Kita harus siap menghadapi apapun yang diberikan sama Allah ke kita, bersyukur kalau itu sesuai sama harapan kita, tapi kalau enggak, ya kita harus tetep bisa menjalaninya dengan baik. Jadi ceritanya tulisan di hari ke-8 ini saya mau nulis tentang “something that you strugle with” atau bahasa Indonesianya sesuatu yang sedang saya hadapi/perjuangkan. Kali ini saya bakal menceritakan perjuangan saya hidup di Sumbawa ini (anggap sesi curhat yaa).

Belakangan saya sering kepikiran ini sih, memikirkan hidup saya yang jauh dari keluarga ini. Sebagai perempuan yang masih single dan jauh dari keluarga, saya dituntut untuk dapat mengurus hidup saya sendiri, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Apalagi notabene saya tidak memiliki teman perempuan di sini karena hampir semua teman kerja saya laki-laki (ada sih satu teman perempuan, tapi perbedaan umur yang cukup jauh membuat saya tidak bisa selalu kemana-mana dengannya). Otomatis sedekat-dekatnya saya dengan teman-teman saya di sini, pastilah berteman dengan lawan jenis tetap memiliki batasan yang harus saya jaga. Ya dan akibatnya, banyak hal yang mau gag mau harus saya lakukan sendiri, seprti misalnya ke pasar, belanja kebutuhan sehari-hari, shopping (jarang-jarang sih, karena sedikit sekali toko di sini), ke salon, dan beberapa hal lain. Ngerasa kesepian gag sih Rin? jawabannya bangeeet. Entar ujung-ujungnya kalau pas lagi banyak pikiran dan gag bisa saya ceritakan sama temen-temen saya di sini saya cuman bisa mewek aja di kamar sambil ngeluh sama Allah (Maaf ya Allah Arin suka ngeluh 😦 ).

Sebenernya temen-temen saya di sini baik semua, saya punya 2 teman laki-laki yang paling dekat dengan saya dan sudah saya anggap kakak karena umur mereka yang memang lebih tua dari saya namanya mas Gusti dan mas Bagus (bersykur kalian, aku sebut nama kalian di tulisan, jarang-jarang lo aku nyebutin nama orang di tulisan. baru kali ini malah). Mereka teman makan, teman nongkrong, teman jalan-jalan, teman curhat masalah kerjaan dan kadang masalah pribadi juga. teman yang suka nasehati kayak kakak ngasih nasehat ke adeknya kalau adeknya salah atau gag paham, tapi jailnya juga gag ketulungan. Tapi karena mas Bagus barusan nikah, jadi saya sekarang kalau makan berdua aja sama mas Gusti (dan banyak pemilik warung yang mengira dia pacar saya -_- ). Tapi kalian taulah, lagi-lagi tak bisa semua hal saya bisa share dengan 2 tema saya ini. dan tidak bisa juga saya sering-sering pergi dengan mereka, mereka memiliki kehidupan sendiri, memiliki calon pendamping yang tentunya tidak mau jika lelakinya sering pergi dengan perempuan lain. Kadang saya berfikir hingga kesitu.

Saya tak pernah menyangka akan ditempatkan di tempat ini. tapi lagi-lagi, hidup memang tak selamanya sesuai yang kita inginkan bukan? dan apa yang bisa dilakukan? saya akan menjalani hidup ini sebaik saya bisa, dengan cara apa? menjaga kesehatan itu paling penting, hal yang paling tidak enak pas jauh dari keluarga adalah pas kita sakit. Jadi mau gag mau, bisa gag bisa, saya harus bisa jaga kesehatan saya. Saya yang tau batas kemampuan badan saya, kalau capek istirahat, kalau lapar makan, kalau haus minum. sesederhana itu sih, dan saya memiliki prinsip gag mau merepotkan orang lain. Hal-hal yang bisa saya kerjakan sendiri pasti akan saya kerjakan tanpa merepotkan orang lain. sebisa mungkin menjauhi hal-hal yang bikin saya stress dan banyak pikiran apalagi hidup di daerah yang sangat sedikit hiburan seperti di Sumbawa.

Kira-kira begitu sih hal-hal yang saat ini saya sedang perjuangkan. saya juga masih butuh banyak belajar. Belajar menerima belajar untuk tidak mengeluh, belajar untuk tidak bertanya kenapa dan kenapa.

#day8
#30dayswrittingchallenge

-dua kosong satu satu dua kosong satu tujuh, alone, Arin-

Diposkan pada ceritaku

10 Lagu Tersering Saya Putar

Sampailah pada hari ke-tujuh
But, I’m sorry until now I can’t upload 2 post before 😦 . Jaringan internet masih gangguan. Saya masih belum menemukan apa penyebabnya, besok saya akan coba beli paketan data baru. Siapa tau paketan datanya yang sedang bermasalah. Tapi saya akan tetap berusaha untuk meng-upload-nya malam ini. Baik kali ini saya akan share tentang 10 lagu yang sedang saya sukai belakangan. Dan langsung saja , 10 lagu itu adalah….

  1. Muara (Adera)
    Saya pertama kali mendengar lagu ini baru sekitar 2 minggu lalu. (Saya bukan orang yang tertarik untuk tahu kapan sebenarnya lagu ini mulai ada, jadi jika ditanya lagu tahun kapan itu untuk 10 lagu yang saya sebutkan ini saya tidak bisa menjawabnya). Baik  jadi lagu ini saya pertama kali dengar dari sound cloud salah satu senior di kampus saya. Lirik lagu ini menceritakan tentang betapa bersyukurnya seorang lelaki memiliki pasangannya yang saat ini (jangan baper). Sehingga dia mengibaratkan kekasihnya dengan segala hal yang indah-indah.
  2. Bukti (Virgoun)
    Single kedua Virgoun ini sama bagusnya dengan single pertamanya yang berjudul Surat Cinta Untuk Starla menurut saya. Sama dengan lagu Muara, lagu ini menceritakan betapa bersyukurnya ia diberikan pasangan yang saat ini dia miliki.  Lagu bukti ini pertama kali saya dengar setelah salah satu teman saya menyuruh saya untuk mendengarkannya melalui whatsapp, kami memang sama-sama mengagumi lagu-lagu Virgoun karena liriknya yang selalu mengena di hati.
  3. Adelaide Sky (Adhitia Sofyan)
    Saya agak lupa, tapi seingat saya, saya men-download lagu ini setelah melihat postingan IGnya Bung Fiersa Besari, yang menjadikan lagu ini sebagai back song  di story-nya. Genre-genre lagu seperti ini yang belakangan menarik perhatian saya. Pelan, teman saat ingin menurunkan tensi pikiran. Sejujurnya saya menyukai lagu ini karena alunan nadanya yang mellow sih, tapi liriknya juga bagus kok.
  4. Akad (Payung Teduh)
    Jadi siapa yang tidak tahu lagu yang sedang hits sekali ini. Lagu akad ini sangat dalam artinya, menceritakan tentang seseorang yang ingin lebih serius dengan kekasihnya. By the way, di saat payung teduh sedang naik daun karena lagu akad ini, sang vokalis memutuskan untuk pamit. Saya sempat bertanya dan menyayangkan, karena sebenernya sebelum lagu akad ini muncul, saya sudah terlebih dahulu menyukai beberapa lagu payung teduh juga seperti resah. But, setelah saya mengetahui alasannya, saya bisa mengerti mengapa bang Is memutuskan itu.
  5. Yang PatahTumbuh (Banda Neira)

    “Yang patah tumbuh, yang hilang berganti, yang hancur lebur akan terobati, yang sia-sia akan jadi makna, yang terus berulah suatu saat mati, yang pernah jatuh kan berdiri lagi, yang patah tumbuh, yang hilang berganti”

    Itu adalah reff dari lagu yang patah tumbuh milik Banda Neira, dalam sekali bukan? Lagu ini memiliki genre yang sama dengan lagu-lagunya Adhitia Sofyan, maaf saya tapi tidak tau nama genrenya. Lagu-lagu milik Banda Neira ini selalu memiliki lirik-lirik yang dalam. Itu alasan saya menyukainya.

  6. Medina (Maher Zain)
    Sudah ada yang pernah mendengar lagu Maher Zain yang ini? Coba dengerin deh. Saya menyukainya karena nadanya yang kece. Ada suara anak kecil imut di awal lagunya memberikan kesan tersendiri di lagunya. Maher Zain selalu memukau saya dengan semua lagu religinya, setiap saya merasa kehilangan arah karena jauh dengan Allah, Lagu-lagu milik Maher Zain selalu mengingatkan saya untuk kembali mendekat kepada Allah.
  1. Thunder (Imagine Dragons)
    Ada dua alasan mengapa saya menyukai suatu lagu. Yang pertama karena liriknya yang dalam, atau karena nada musiknya yang kece. Untuk lagu thunder ini saya menyukainya karena nadanya yang kece badai. Coba dengerin deh
  1. I’m The One (dj. Khaled ft. Justin Bieber)
    Lagu ini sedang hits dan masuk di Top 40 chart UK. Saya mendapatkan lagu ini karena pada saat itu saya men-download Top 40 chart UK. Dan lagu ini masuk ke urutan ke 3 saat itu kalau saya tidak salah. Saya menyukai lagu ini karena nadanya yang kece. (ah itu mulu alasannya Rin)
  1. A thousand Years (Christina Perri)
    Ini lagu yang sudah cukup lama seingat saya, tapi saya mendapatkannya baru-baru ini. Cupu sekali kan? Saya sering mendengarkan lagu ini saat sedang bersantai dengan teman-teman saya di satu-satunya kedai pizza di Sumbawa. Saya tidak perlu menjelaskan lagu ini menceritakan tentang apa kan? Saya yakin kalian lebih paham dari pada saya.
  1. Bojoku Galak (Via Vallen ) 😀
    Dan… jeng jeng jeng, lagu terakhir yang belakangan sering saya putar adalah lagunya Via Vallen yang judulnya Bojoku Galak (jangan ditertawakan). Saya menyukai lagu ini bukan karena saya memiliki Bojo Galak (suami galak). Bukanlah -_-. Tapi saya suka dengan nada musiknya, membuat ingin bergoyang (eh, hahahaha). Lagu dangdut belakangan memang lagi naik daun sih. Dengerin sendiri lagunya biar gag penasaran.

Oh ya, saya masih menuliskan tulisan ini menggunakan Microsoft word. Doakan saya bisa berhasil mengunggahnya yaa. Oke teman-teman, hari minggu sebentar lagi usai, itu tandanya hari senin sebentar lagi juga tiba. Saya sudahi dulu tulisan ini, sampai jumpa besok.

#day7
#30dayswrittingchallenge

-satu Sembilan satu satu dua kosong satu tujuh, hujan terus di Sumbawa, Arin-